Info Terkini

Pendidikan Adalah Investasi Menuju Indonesia Emas

Masyarakat Menurut August Comte

Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organic. Perkembangan masyarakat terjadi melalui tiga tahap evolusi sosial yakni tahap teologis, tahap metafisik dan tahap positif. Tahap pertama,teologis. Manusia menjelaskan fenomena alam melalui kekuatan supranatural, berhala, atau dewa-dewa. Tahap kedua, metafisika. Kekuatan supranatural digantikan oleh kekuatan abstrak atau prinsip – prinsip filosofis. Tahap ketiga, positif. Puncak perkembangan di mana manusia meninggalkan pencarian penyebab mutlak dan fokus pada observasi, eksperimen, dan logika (rasionalitas) untuk memahami fenomena.

Indonesia Menuju Generasi Emas

Dengan melihat tahap evolusi menurut August Comte, Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda, karena secara struktur sosial yang dikemukakan oleh Nasikun bahwa Indonesia pada dasarnya terbagi menjadi vertikal : yang disebut stratifikasi sosial yang membentuk tingkatan – tingkatan di masyarakat sedangkan horizontal membentuk perbedaan – perbedaan. Di mana stratifikasi sosial bercirikan kekayaan, kekuasaan, pendidikan dan keturunan. Sedangkan ciri diferensiasi adalah fisik, budaya, sosial. Saat ini Indonesia masih mempercayai teologis di mana kejadian musibah dihubungkan dengan kesialan atau karma / kutukan dari Alam, tetapi ada kaum inteletual yang tidak mempercayai teologis, seperti Tan Malaka dalam buku nya “Madilog” menggambarkan masyarakat terbagi menjadi 3 juga seperti August Comte. Artinya tahun sebelum kemerdekaan sudah ada manusia Indonesia mempunyai pemikiran seperti August Comte yaitu rasionalitas. Gambaran Indonesia sekarang berada pada tahap metafisik karena masyarakat ada yang mempercayai teologis dan filosofi. Tahap metafik yang digambarkan August Comte adalah masyarakat pertengahan di mana masyarakatnya mempercayai teologis dan mulai berpikir f ilosofi. Hal ini karena berdasarkan data terbaru hingga awal 2026, persentase penduduk Indonesia yang berpendidikan tinggi (sarjana / diploma) masih tergolong kecil, berada di kisaran 10,2% hingga 11% dari total populasi. Data per Mei 2026 menunjukkan jumlah sarjana (S1) saja berkisar antara 6 – 7%, dengan mayoritas penduduk masih berpendidikan SMA atau sederajat.

https://nasional.kompas.com/read/2025/03/04/16213201/data-bps-hanya-102persen-penduduk-indonesia-lulus-perguruan-tinggi

Ciri masyarakat positif adalah focus pada logika, empiris dan sistematis. Membangun masyrakat positif salah satu caranya adalah mengedepankan Pendidikan. Pendidikan Indonesia berhubungan erat dengan kebijakan yang diambil. Saat ini Indonesia memberlakukan Kurikulum Nasional yang didalamnya adalah Kurikulum Merdeka dan K-13. Inti dari Kurikulum Nasional adalah membentuk manusia berkarakter yang mempunyai kompetensi. Kurikulum Nasional adalah Kurikulum Merdeka telah resmi ditetapkan sebagai Kurikulum Nasional berdasarkan Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024. Ini adalah kerangka dasar pendidikan di Indonesia yang menekankan pada fleksibilitas, pembelajaran berbasis kompetensi, pengembangan karakter. Berdasarkan Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025, 8 Dimensi Profil Lulusan atau SKL (Standar Kompetensi Lulusan) adalah kriteria minimal sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang wajib dikuasai peserta didik di akhir jenjang pendidikan, meliputi : (1) Keimanan/Ketakwaan, (2) Kewargaan, (3) Penalaran Kritis, (4) Kreativitas, (5) Kolaborasi, (6) Kemandirian, (7) Kesehatan, dan (8) Komunikasi. Sejalan dengan kompetensi abad 21 adalah sikap Penalaran Kritis tidak datang dengan tibat iba seperti pada tahap teologis dan metafisik yang digambarkan oleh August Comte, tapi diperjuangkan dengan disiplin positif yang tinggi. Di mana fakta sosial yang ada di luar individu menurut Emile Durkheim mampu memaksa personal mematuhi norma. Disiplin Positif yang t inggi akan memerdekan personal. Contoh: jika siswa mempunyai kemandirian yang kuat dalam belajar matematika maka akan Merdeka ketika mengerjakan asesmen sumatif oleh guru matematika.

Literasi Mukjizat Dari tuhan

Dengan terminology August Comte dan diperkuat dari Emile Durheim tentang Positivistik (empiric, rasional dan sistematis) untuk membangun Generasi Emas yang dicita – citakan oleh Bangsa Indonesia, Kurikulum Nasional yang berbasis pada kompetensi diharapkan mampu menjadi jalan menghasilkan generasi emas, karena di dalam kurikulum nasional ada proses pembelajaran ada inkokurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Proses pembelajaran intrakurikuler menggali konsep dan pengetahuan tentang materi atau konten. Tujuan adalah membangun pemikiran positif dengan penalaran deduktif dan induktif, yang nantinya diharapkan mampu bernalar kritis. Bagaimana caranya? Mewajibkan guru dan siswa untuk berliterasi. Membaca adalah bagian mukjizat Tuhan untuk masyarakat modern yang positivistic. Tanpa kebiasaan membaca yang dipaksakan maka kemerdekaan pemikiran secara rasional tidak akan terwujud. Penalaran kritis berproses sangat panjang, kurang lebih 2 dekada dibentuknya. Mulai dari sekarang siswa mempunyai target membaca buku baik fiksi dan nonfiksi, maka 1 dekade melahirkan orang tua yang gemar membaca, secara otomatis akan menularkan pada generasi berikutnya. Sekolah sebagai wadah dari proses pembelajaran bukan hanya menghantarkan siswanya lulus dan naik kelas saja. Hal itu adalah standar minim. Wujudkan siswa yang mempunyai kompetensi lebih dari standar minim dengan mentargetkan setelah lulus mampu membaca 30 buku buku, karena setiap tahunnya adalah 10 buku yang dibaca. Dengan membaca menggantikan peran gadget yang sudah mandarah daging pada generasi sekarang ini. Mari wujudkan generasi emas dengan berpikir kritis mampu mengolah informasi menjadi data yang valid dan reliabel bukan hanya hoax semata.

Karakter Building

Karakter building dibangun dari gabungan antara proses pembelajaran intrakurikuler menghasilkan kemampuan berpikir positivistic atau pemikiran kritis dan berpengatahuan empiris dan rasional, kokurikuler diharapkan mampu menghasilkan sikap dengan delapan dimensi profil lulusan dan ekstrakurikuler menghasilkan manusia yang mempunyai kemampuan soft skill yang tidak diajarkan di dalam ruang – ruang kelas. Paduan ketiganya masih membutuhkan keterampilan di dalam pembelajaran. Calon pemimpin bangsa mempunyai kecakapan pengetahuan dalam berkomunikasi (dengan menguasai beberapa bahasa asing), geopolitik (geografi harus kuat pengetahuannya), sejarah karena sejarah mempunyai pola yang sama kemungkinan akan berulang. Sekolah diharapkan tidak mencetak manusia penghamba industry atau budak korporat, tetapi menghasilkan manusia yang berkarakter.

Tinggalkan komentar